MAKRIFAT BREBES

Asal Muasal Nama Brebes.

Pendapat pertama.

Brebes yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyak air yang merembes, Munculah kemudian nama Brebes, yang selanjutnya mengalami “verbastering” (perubahan) menjadi Brebes.

Pendapat kedua

Keterkaitan perihal awal mula masuknya agama Islam ke Brebes, yang selalu dihalang halangi oleh keyakinan mayoritas lokal yang menganut agama Kaptayan namun usaha tersebut tidak berhasil ternyata masih juga merembes, yang dalam bahasa daerah disebut disebut “berbes”. Oleh karenanya munculah kemudian kata Berbes, yang lambat laun menjadi berubah menjadi Brebes.

Pendapat yang ketiga

Ada yang berpendapat Brebes berasal dari sambungan dua kata yaitu  “bara” dan “basah”.  “Bara” berarti hamparan tanah datar yang luas, sedang “basah” berarti banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang merupakan dataran luas, juga mengandung banyak air, karena perkataan “bara” diucapkan “bere”, sedang “basah” diucapkan “beseh”, pada akhirnya lahirlah perkataan “Bere basah”, yang untuk mudahnya kemudian telah berubah menjadi Brebes. 

Pendapat yang keempat

Cerita lokal berkembang asal Brebes yaitu nama yang diambil dari sebuah bukit yang menyerupai gunung terletak di daerah Salem dan Bantarkawung bernama “Baribis”yang mengalirkan Sungai Baribis ini, masyarakat lokal berkeyakinan sungai itu adalah Keramat dan bertuah , orang-orang tua pada saat itu banyak yang melarang anak cucunya untuk datang, menyeberangi, mandi dan sebagainya disungai tersebut. Terlebih dalam saat berperang orang tua selalu memberikan peringatan-peringatan yang melarang melangkahi/menyeberangi sungai tersebut. Untuk meyakinkan hal ini, maka terungkaplah sebuah legenda tentang perang Arya Bangah dengan Ciyung Wanara. Akibat menyeberangi sungai Baribis tersebut, Arya Bangah mengalami kekalahan. 

Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal sebagai larangan, atau Sungai Pemali,

A. Makna Gambar dalam Lambang

1. Makna Lambang Bagian Luar

Daun Lambang Daerah yang berbentuk Dasar Segi Lima Melambangkan Dasar Falsafah Negara yaitu Pancasila, Warna biru menunjukkan adanya daerah Pantai dan Pegunungan. Puncak segi lima menunjukkan puncak gunung sedangka, Lengkung-lengkungnya menunjukkan gelombang lautan 

2. Makna dan motif-motif di dalam lambang

Bintang Bintang bersudut lima berwarna kuning emas melambangkan bahwa masyarakat Brebes adalah makhluk yang berKetuhanan Yang Maha Esa. Padi dan Kapas Melambangkan Kemakmuran di bidang Sandang Pangan Bentuk Bulat Telur serta Gambar Bawang Merah Melambangkan bahwa telur asin serta gambar bawang merah merupakan hasil spesifik daerah.

Lima Akar Melambangkan bahwa rakyat dan Pemerintah Daerah adalah Pelaksana Demokrasi Pancasila. Perpaduan antara tujuh belas butir padi, delapan buah kapas empat puluh lima mata rantai melambangkan titi mangsa proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945. Perpaduan tiga umbi bawang merah dan lima akar yang berwarna hitam serta puncak bawang yang merupakan nyala api yang tak kunjung padam berjumlah lima, melambangkan kehidupan Demokrasi (Legistatif, eksekutif, Yudikatif) yang harus dilaksanakan secara dinamis dalam bentuk Demokrasi Pancasila.
Sebuah pita putih bergaris tepi hitam yang menyambungkan padi dan kapas ditengahnya bertuliskan: Mangesti Wicara Ebahing Praja dengan warna hitam yang menunjukkan bahwa rakyat Brebes bertekad untuk membangun daerahnya guna mewujudkan kesejahteraan bersama dalam rangka membangun bangsa dan Negara Kesatuan republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.


B. Makna Warna


Putih berarti                 : Kejujuran/Kesucian

Kuning emas berarti    : Kesatuan/Keagungan/Kemuliaan Kebijaksanaan

Merah berarti              : Keberanian

Hijau berarti                 : Kemakmuran/Kerukunan

Hitam berarti               : Keteguhan/Keabadian

Biru berarti                  : Kedamaian/Kesetiaan 

C. Makna Sesanti Daerah “Mangesti Wicara Ebahing Praja”

(1) Arti Sesanti Daerah, kata demi kata adalah: 

a. Mangesthi :

Menuju, menginginkan, menghendaki, mengusahakan, mengutamakan, bertekad. 

b. Wicara :

Bicara, cerita, riwayat, pembicaraan, rembug, musyawarah, mufakat, kebulatan tekad. 

c. Ebah (ing) :

Gerak, kegiatan, bekerja membangun. 

d. Praja :

Pemerintahan, Negara, Kegiatan-kegiatan kenegaraaan.

(2) Arti keseluruhan sesanti daerah adalah bahwa rakyat bersama Pemerintah Daerah Brebes bertekad (Mangesthi) untuk membangun daerahnya guna mewujudkan kesejahteraan bersama dalam rangka membangun (ebahing) Negara (Praja) dan Bangsa.

(3) Arti Surya Sengkala “Mangesthi Wicara Ebahing Praja”

-Mangesthi berwatak : 8 

-Wicara berwatak                   : 7 

-Ebah(ing) berwatak               : 6 

-Praja berwatak                      :1 

Dengan demikian Mangesthi Wicara Ebahing Praja mengandung makna tahun matahari/masehi : 1678, tahun ini adalah tahun berdirinya Pemerintah Brebes dengan titi mangsa 18 Januari 1678 yang ditandai dengan dilantiknya Bupati Brebes yang pertama yaitu : Raden Arya Suralaya.